Wiji Thukul dan Puisi-Puisi Tanpa Basa-Basi


Bapak seperti puisi,
rumit dan singkat.
Bapak seperti puisi,
berlapis arti.*

*) potongan lirik Lagu Anak - Fajar Merah (Putra Wiji Thukul)


Membaca ulang Wiji Thukul begitu mirip menyelam ke dasar laut paling dalam. Semakin dalam, semakin ingin menyelam. Tetapi tak perlu khawatir kehabisan oksigen sejak awal dan kemudian mati. Sebab puisi-puisi dan seluruh cerita di balik aktivis-penyair seperti Wiji Thukul adalah oksigen dan semangat zaman (zeitgeist) dalam rupa yang lain.

Biografi Penyair dan Puisi: Perdebatan tentang Otonomi

Membaca Thukul tidak cukup hanya lewat karya-karyanya. Membaca Thukul adalah juga membaca seluruh cerita tentang hidup, seluruh konteks kelahiran karya-karyanya, dan seluruh dampak dari “keberadaan dan ketiadaannya”.

Memang hampir pasti akan muncul banyak perdebatan tentang “kematian penulis” atau penyair ketika sebuah karya dilahirkan. Bahwa kata-kata dalam sebuah teks adalah tuan atas dirinya sendiri, otonom, beranak-pinak tanpa terhalang program Keluarga Berencana (KB), dan berserakan bahkan di luar batas mobilitas penalaran kita. Seperti analogi Kahlil Gibran tentang anak panah yang merdeka semerdeka-merdekanya persis ketika ia dilepaskan dari busurnya. Biografi penyair dan biografi teks mati berpalingan, kata Chairil Anwar. Atau dalam bahasa yang lebih tegas, Afrizal Malna (2000) menulis bahwa ketika membaca puisi diperlakukan sebagai perjalanan kembali kepada pengalaman penyair, pembaca di sini sebenarnya telah meninggalkan puisi yang dibaca, sekaligus berkhianat terhadap wawasan referensial yang dimilikinya sendiri.

Memang sulit melepaskan diri dari perdebatan panjang tentang otonomi penyair dan puisi yang dilahirkannya. Tetapi menyeimbangkan keduanya dengan sebuah benang merah sepertinya bisa melahirkan cara baca baru yang lebih segar. Dan benang merah itu barangkali bisa dirumuskan dalam pertanyaan berikut: Untuk apa puisi dilahirkan? Atau lebih tajam, untuk kepentingan apa puisi dilahirkan?

Dalam relasinya dengan contoh kepenyairan Wiji Thukul, melepaskannya begitu saja dari hidup dan konteks mengapa puisi-puisinya lahir adalah sama maknanya dengan apa yang dilakukan penguasa represif Orde Baru tatkala menculik dan melenyapkannya pada 1998. Sungguh tidak adil. Sebab Thukul adalah puisi itu sendiri. Begitupun sebaliknya. Hingga memisahkan keduanya sama saja dengan membunuh Thukul untuk kedua kalinya.

Jauh lebih dalam, yang sedang kita lakukan saat ini adalah menafsir-nafsirkan untuk apa Wiji Thukul melahirkan puisi-puisinya. Bukan memperdebatkan tentang otonomi penyair dan puisi-puisi yang dilahirkannya. Dalam kepentingan itu, kita tidak sedang membaca dan memaknai Wiji Thukul atau puisi-puisinya dalam keadaan yang saling memunggungi dan saling terlepas satu sama lain. Justru kita sedang membaca Wiji Thukul melalui puisi-puisinya dan sekaligus membaca puisi-puisinya melalui Wiji Thukul.

Dalam kerangka pemaknaan yang lebih luas, Wiji Thukul adalah juga manusia Indonesia dan puisi-puisinya lahir dalam konteks Indonesia ketika itu. Dengan hubungan demikian, membaca Wiji Thukul dan puisi-puisinya pada saat yang sama adalah sebuah pembacaan terhadap Indonesia, rakyatnya, sejarahnya, harap-harapannya, imajinasinya, ekonomi-politiknya, budayanya, relasi-relasi sosialnya, dan sebagainya, dan sebagainya.

Dan dengan dasar itu, saya memilih membaca dengan benang merah tersebut: membaca Wiji Thukul dan puisi-puisinya tanpa memisahkan biografi keduanya.

Wiji Thukul: Penyair-Aktivis

Widji Thukul, yang bernama asli Widji Widodo lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 26 Agustus 1963. Ia hilang sejak diduga diculik militer pada 27 Juli 1998 ketika berumur 34 tahun. Thukul, begitu ia kerap disapa, adalah sastrawan dan aktivis hak asasi manusia. Thukul merupakan salah satu tokoh yang secara aktif ikut melawan penindasan rezim Orde Baru. Sejak 1998 sampai sekarang dia dinyatakan hilang dan tidak diketahui rimbanya.

Thukul adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ia lahir dari keluarga Katolik dengan keadaan ekonomi sederhana. Ayahnya adalah seorang penarik becak, sementara ibunya terkadang menjual ayam bumbu untuk membantu perekonomian keluarga.

Thukul mulai menulis puisi sejak SD, dan tertarik pada dunia teater ketika duduk di bangku SMP. Bersama kelompok Teater Jagat, ia pernah ngamen puisi keluar masuk kampung dan kota. Sempat pula menyambung hidupnya dengan berjualan koran, jadi calo karcis bioskop, dan menjadi tukang pelitur di sebuah perusahaan mebel. Pada Oktober 1989, Thukul menikah dengan istrinya Siti Dyah Sujirah alias Sipon yang saat itu berprofesi sebagai buruh. Tak lama semenjak pernikahannya, pasangan Thukul-Sipon dikaruniai anak pertama bernama Fitri Nganthi Wani. Kemudian pada tanggal 22 Desember 1993, anak kedua mereka lahir dan diberi nama Fajar Merah.

Thukul pernah bersekolah di SMP Negeri 8 Solo dan melanjutkan pendidikannya hingga kelas dua di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia jurusan tari. Thukul memutuskan untuk berhenti sekolah karena kesulitan keuangan. Kendati hidup sulit, ia aktif menyelenggarakan kegiatan teater dan melukis dengan anak-anak kampung Kalangan, tempat  ia dan anak-istrinya tinggal.

Aktivismenya mulai terlihat ketika  ia ikut demonstrasi memprotes pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil PT Sariwarna Asli Solo pada tahun 1992. Lalu kemudian pada 1994, terjadi aksi petani di Ngawi, Jawa Timur. Thukul yang memimpin massa dan melakukan orasi ditangkap serta dipukuli militer. Di tahun-tahun berikutnya, Thukul aktif di Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker). Lalu di tahun 1995, ia mengalami cedera mata kanan karena dibenturkan pada mobil oleh aparat sewaktu ikut dalam aksi protes karyawan PT Sritex.

Peristiwa 27 Juli 1998 di masa-masa reformasi menghilangkan jejaknya hingga saat ini. Ia jadi salah seorang dari belasan aktivis pro-demokrasi yang hilang. Pada April 2000, istri Thukul, Sipon, melaporkan suaminya yang hilang ke Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Pemerintah berganti-ganti, namun hingga kini Thukul dan belasan aktivis yang hilang itu belum kunjung diketahui nasibnya. Kerusuhan pada Mei 1998 telah menyeret beberapa nama aktivis kedalam daftar pencarian aparat Kopassus Mawar. Aktivis-aktivis itu adalah aktivis dari Partai Rakyat Demokratik, Partai Demokrasi Indonesia, Partai Persatuan Pembangunan, JAKKER, pengusaha, mahasiswa.

Semenjak bulan Juli 1996, Thukul sudah berpindah-pindah keluar masuk daerah dari kota satu ke kota yang lain untuk bersembunyi dari kejaran aparat. Dalam pelariannya itu Thukul tetap menulis puisi-puisi pro-demokrasi yang salah satu di antaranya berjudul Para Jendral Marah-Marah. Sejumlah orang masih melihatnya di Jakarta pada April 1998. Setelah itu, Thukul lenyap, dilenyapkan.

Ada tiga sajak Thukul yang populer dan menjadi sajak wajib dalam aksi-aksi massa, yaitu Peringatan, Sajak Suara, dan Bunga dan Tembok (ketiganya ada dalam antologi "Mencari Tanah Lapang" yang diterbitkan oleh Manus Amici, Belanda, pada 1994. Nama penerbit fiktif Manus Amici digunakan untuk menghindar dari pelarangan pemerintah Orde Baru.

Wiji Thukul sesungguhnya telah melahirkan ratusan puisi yang tersebar dalam beberapa kumpulan. Selain dalam bentuk buku, puisi-puisinya juga sudah banyak yang digarap kembali dalam bentuk komposisi musik oleh beberapa musisi, termasuk oleh anaknya sendiri, Fajar Merah.

Sejumlah penghargaan diterima Thukul. Tahun 1991, ia memperoleh Wertheim Encourage Award yang diberikan Wertheim Stichting, Belanda, bersama WS Rendra. Dan tahun 2002, Ia dianugerahi penghargaan Yap Thiam Hien Award 2002.  


Puisi-puisi Protes Tanpa Basa-Basi

Ciri paling umum yang bisa ditemukan pada hampir semua puisi Wiji Thukul adalah suara protes dan perlawanan terhadap realitas sosial yang meringkus masyarakat ketika itu. Mereka ditulis tanpa basa-basi. Sederhana saja. Barangkali itu sengaja dilakukannya agar suara-suara dan maksud-maksud di balik kata-katanya dapat langsung sampai ke telinga dan perasaan pembacanya. Coba tengok puisi Peringatan yang begitu menggelorakan ini:

jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa

kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!


Dalam prosesnya kemudian, puisi-puisi Wiji Thukul sering sekali mengabaikan kaidah-kaidah puisi yang dirumuskan para pujangga pendahulunya. Misalnya, soal tipografi, diksi, rima, gaya bahasa, dan sebagainya. Sesekali ia patuh. Selebihnya, Thukul menulis dan bergerak bebas seturut perasaannya.

Terkait pemilihan tema puisi-puisinya, Thukul sering disebut-sebut seniman atau penyair dalam aliran realisme sosialis. Sejak tahun-tahun awal kelahiran puisi-puisinya, sekitar tahun 1982-1983, Wiji Thukul sudah bicara tentang tema-tema “kemerdekaan”, “kebebasan”, “protes sosial”, “tirani kekuasaan dan penguasa”, “mentalitas bobrok”, “kritik terhadap pandangan umum” dalam nada yang sangat miring. Thukul melalui puisi-puisinya bicara secara terang-terangan tentang realitas sosial dalam periode rezim Orde Baru.
Dan dalam nada yang miring itu, sudut pandang yang ia pakai adalah suara-suara orang kecil, miskin, tertindas, orang-orang yang dirampas hak-haknya. Dan itu tidak lain adalah suara-suaranya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Salah satu contohnya adalah seperti Nyanyian Abang Becak (1984) berikut:

jika BBM kembali menginjak
namun juga masih disebut langkah-langkah kebijaksanaan
maka aku tidak akan lagi memohon pembangunan

nasib
kepadamu duh pangeran duh gusti
sebab nasib adalah permainan kekuasaan

Atau tentang kaum buruh dalam Buruh-Buruh (1986):

di batas desa
pagi - pagi
dijemput truk
dihitung seperti pesakitan
diangkut ke pabrik
begitu seterusnya

mesin terus berputar
pabrik harus berproduksi
pulang malam
badan loyo
nasi dingin

bagaimana kalau anak sakit
bagaimana obat
bagaimana dokter
bagaimana rumah sakit
bagaimana uang
bagaimana gaji
bagaimana pabrik? mogok?
pecat! mesin tak boleh berhenti
maka mengalirlah tenaga murah
mbak ayu kakang dari desa

disedot
sampai pucat

Atau tentang korban penggusuran seperti dalam Nyanyian Akar Rumput (1988) berikut:

jalan raya dilebarkan
kami terusir
mendirikan kampung
digusur
kami pindah-pindah
menempel di tembok-tembok
dicabut
terbuang

kami rumput
butuh tanah
dengar!
Ayo gabung ke kami
Biar jadi mimpi buruk presiden!


Tentu contoh-contoh puisi itu hanya contoh. Sebab sepertinya tiga contoh itu tidak cukup untuk menerangkan sudut pandang dan posisi etik yang dipilih Wiji Thukul berhadapan dengan realitas sosialnya.

Dan karena pilihan itulah, ia menjadi sasaran tembak rezim Orde Baru sekaligus menjadi salah satu sumbu yang menjaga api kewarasan dan perlawanan rakyat terhadap ketidakadilan. Sejak puisi-puisinya menyebar dan ia aktif dalam berbagai aktivitas gerakan politik melawan rezim Orde Baru, Wiji Thukul mulai dicari-cari. Dan di titik inilah Wiji Thukul dan puisi-puisinya menjadi begitu penting didiskusikan.

Puisi: Senjata dalam Perang Wacana

Wiji Thukul dan seluruh puisinya ketika itu menjadi  bagian penting dari sebuah perang wacana. Ia dan puisi-puisinya menawarkan sebuah wacana tandingan (counter hegemony) terhadap wacana dominan rezim Orde Baru. Ketika Orde Baru bicara tentang pembangunan, ia mempertanyakan pembangunan seperti tampak dalam Nyanyian Abang Becak (1984) tadi:

jika BBM kembali menginjak
namun juga masih disebut langkah-langkah kebijaksanaan
maka aku tidak akan lagi memohon pembangunan

Ketika rezim Orde Baru melakukan propaganda-nina bobo melalui seremoni-seremoni, Wiji Thukul sejak tahun 1983 mempertanyakan “kemerdekaan” sebagai sebuah makna dalam Puisi Kemerdekaan berikut:

Kemerdekaan adalah nasi
Dimakan jadi tai

Ketika propaganda-propaganda rezim Orde Baru untuk melanggengkan kekuasaannya makin kencang disusupkan lewat seluruh perangkat sosial (hukum-hukum, aturan-aturan, kebijakan-kebijakan, istilah-istilah, film-film, buku-buku, cerita-cerita, berita-berita, televisi, media cetak, radio, dan sebagainya), Thukul melempar puisi Kidung di Kala Sedih (1985). Salah satu baitnya memberi peringatan:

harga diri memang tak bisa dibeli
tetapi jika kita gampang percaya dan tidak curiga
berhati-hatilah saudaraku.

Atau dalam puisi lain berjudul Suara dari Rumah-Rumah Miring ia bilang:

dari segenap penjuru
tak henti-hentinya membujuk kami
merampas waktu kami dengan tawaran-tawaran
sandiwara obat-obatan
dan berita-berita yang meragukan

Dalam kecurigaan yang paling dalam, saya ingin mengambil kesimpulan sementara bahwa Wiji Thukul menyadari betul tentang pengaruh puisi sebagai cara melawan dan menyebarkan kesadaran kritis (cara pandang) tentang realitas sosial. Yang disasar Orde Baru dalam upaya melanggengkan kekuasaannya adalah rekayasa kesadaran publik melalui seluruh perangkat sosial yang dimilikinya. Dan Wiji Thukul melihat dengan jeli peluang untuk menjungkirbalikkan itu semua. Meski gerakan puisinya terlihat kecil, lamban, dan butuh proses, namun lewat puisi-puisinya  ia menggunakan strategi yang sama dengan Orde Baru untuk justru melawan rezim itu. Dan persis di situ, strategi puisinya jitu. Ia dilenyapkan.

Dalam cara baca seperti ini, kita pada akhirnya sampai pada benang merah perdebatan tentang otonomi Wiji Thukul dan puisi-puisinya: untuk kepentingan apa puisi dilahirkan? Dengan tegas, menurut saya, kita bisa meyakinkan diri bahwa Wiji Thukul menggunakan puisi-puisinya untuk membangkitkan satu kesadaran kritis tentang realitas sosial hingga kemudian gerakan perubahan bisa terjadi. Seperti tampak dalam puisinya Aku Menuntut Perubahan (1992) :

Seratus lobang kakus
Lebih berarti bagiku
Ketimbang mulut besarmu
Tak penting
Siapa yang menang nanti
Sudah bosen kami
Dengan model urip kayak gini
Ngising bingung, hujan bocor
Kami tidak butuh mantra
Jampi-jampi
Atau janji
Atau sekarung beras
Dari gudang makanan kaum majikan
Tak bisa menghapus kemlaratan
Belas kasihan dan derma baju bekas
Tak bisa menolong kami
Kami tak percaya lagi pada itu
Partai politik
Omongan kerja mereka
Tak bisa bikin perut kenyang
Mengawang jauh dari kami
Punya persoalan
Bubarkan saja itu komidi gombal
Kami ingin tidur pulas
Utang lunas
Betul-betul merdeka
Tidak tertekan
Kami sudah bosan
Dengan model urip kayak gini
Tegasnya:
Aku menuntut perubahan

Sanusi Pane, suatu kali pernah bilang bahwa isi dan bentuk keindahan puisi bukan utama. Keutamaan terletak pada bagaimana bisa berhadapan dengan cermin hati nurani yang hidup dalam dunia pembaca. Wiji Thukul melakukan itu. Puisi-puisi darinya lahir untuk menggetarkan hati nurani yang hidup dalam dunia pembaca.

Zeitgeist: Relevansi terhadap Konteks Kita

Wiji Thukul dan puisi-puisinya boleh dikata serupa zeitgeist (semangat zaman) di zaman yang serba butuh revolusi. Zaman-zaman seperti sekarang ini, di tempat kita masing-masing. Seluruh narasi tentangnya, puisi-puisinya, dan seluruh dampak dari “ketiadaan dan keberaadaannya” menambah inspirasi dan semangat gerakan 1998 ketika menggulingkan otoritarianisme Soeharto dengan Orde Barunya . Itu tampak sangat terang ketika puisi-puisinya jadi seruan wajib dalam setiap aksi.

Dalam pertaliannya dengan itu, puisi dan karya sastra atau seni lain mulai sekarang mesti dimaknai dengan pertanyaan ini: untuk kepentingan apa ia dilahirkan. Wiji Thukul dan puisi-puisinya sudah menampilkan satu model bahwa meski kita mencintai puisi setengah mati, namun apakah puisi hanya dilahirkan untuk dinikmati dan dinikmati sebagai puisi? Atau puisi dilahirkan hanya untuk membesarkan pembuatnya? Atau puisi kemudian bisa menemukan sebuah titik keseimbangan baru dalam rupa seperti yang ditampilkan Wiji Thukul, yaitu: puisi sebagai suara-suara kritis yang lahir dari kesadaran kritis publik? Tinggal pilih.

Epilog: Sastra Gerakan

Persis potongan lirik di atas, seluruh hidup Wiji Thukul seperti puisi. Rumit dan singkat. Tetapi sekali lagi seperti puisi, ia memberi semangat zaman dalam berlapis-lapis arti. Puisi dan seluruh bentuk kesusastraan lain bisa menjadi bentuk-bentuk baru sebuah upaya untuk membangkitkan kesadaran kritis publik terhadap realitas sosial yang tidak adil. Mesti selalu ada tanggung jawab kemanusiaan yang disematkan dalam setiap larik puisi agar setiap larik dan pemaknaan atasnya bermanfaat untuk mendorong perubahan sosial. Barangkali itu yang kemudian disebut sebagai sastra gerakan. Ia melampaui segala bentuk pemujaan terhadap sastra untuk sastra dan perdebatan tentang otonomi puisi sebagai teks yang bebas.*



Catatan ini disajikan sebagai pengantar dalam diskusi Kopi Sastra Akhir Bulan, 16 Juni 2016. Catatan ini terus membuka diri terhadap pendalaman, bahkan perombakan besar-besaran atas data, fakta, asumsi dan pandangan yang tercantum di dalamnya.


Komentar

Postingan Populer